23 Januari 2018

Harris to Support Philippine Military C4ISTAR System Delivery Under Navy FMS Deal

23 Januari 2018


Harris will deliver C2 system to AFP (photo : ADS)

A Harris subsidiary has received a $44.8 million contract to assist the U.S government in efforts to deliver command, control, communications, computers, intelligence, surveillance, target acquisition and reconnaissance equipment to the Philippine military.

Harris’ RF Communications business will design, engineer and test a joint command and control system of systems for the armed forces of the Philippine under the foreign military sales contract from the U.S. Navy, the Defense Department said Friday.

Work is scheduled to occur through December 2020 and also includes program management along with post-installation test, training and maintenance services.

The Philippines will receive a Global Command and Control System – Maritime designed to integrate and disseminate information across the AFP’s multiple service-specific headquarters.

DoD noted the U.S. will also equip AFP command centers with satellite communications and microwave communications platforms in an effort to establish a unified interconnection between military C2 assets in the Philippines.

The Navy’s Space and Naval Warfare Systems Command will obligate $40.3 million in FMS funds to finance base services under the sole-source contract.

(ExecutiveBiz)

Lagi, Kemhan Uji Kembali Prototipe Rudal Petir

23 Januari 2018


Prototipe rudal Petir yang diuji coba (photo : Kemhan)

Puslitbang Alpalhan Melaksanakan Uji Fungsi Pengembangan Prototipe Rudal Petir di Lanud Gorda Serang

Serang - Balitbang Kemhan dalam hal ini yang terkait Puslitbang Alpalhan melaksanakan uji fungsi pengembangan prototipe rudal petir di Lanud Gorda Desa Lamaran Serang, Banten. Uji fungsi pengembangan prototipe rudal petir disaksikan oleh Ses Balitbang Kemhan Laksma TNI Ir. A. Budiharja Raden, Kabid Matra Laut Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan Kolonel Laut (KH) Ir. Indra Usmansyah, MM., para pejabat di lingkungan TNI dan Kemhan, Dislitbang AL, Dislitbang AU, dan tim uji coba dari PT. Sari Bahari Malang.

Kegiatan diawali sambutan oleh Ses Balitbang Kemhan Laksma TNI Ir. A. Budiharja Raden, pembacaan doa, dilanjutkan uji fungsi rudal petir dari tim PT. Sari Bahari dan terakhir evaluasi hasil pelaksanaan uji fungsi rudal petir. Pelaksanaan uji fungsi pengembangan prototipe rudal petir ini adalah hasil kerjasama antara Balitbang Kemhan dengan PT. Sari Bahari yang telah melaksanakan uji fungsi prototipe rudal petir yang ke-3. Dalam pelaksanaannya, uji fungsi rudal petir akan dilontarkan dengan platform peluncur dan mendarat dengan menggunakan jaring. Rudal petir ini adalah buatan dan dikembangkan di dalam negeri yang merupakan inovasi dan kemandirian industri pertahanan nasional.

Perlu diketahui bahwa untuk meningkatkan performance rudal petir tersebut telah dilakukan pengembangan diantaranya meningkatkan kecepatan yang diharapkan bisa mencapai 350 km/jam, jarak jangkauan sekitar 80 km, pengembangan sistem kontrol auto pilot dan seeker, pembuatan peluncur rudal serta pengembangan warhead. Scope of work dari pengembangan rudal petir ini dititikberatkan pada peningkatan kecepatan, jarak jangkau, sistem kontrol, dan uji fungsi. Dengan adanya target pengembangan tersebut maka terjadi perubahan air frame.

(Kemhan)

Fourth Gepard 3.9 Arrived in Cam Ranh

23 Januari 2018


Rolldock Star carrying fourtg Gepard 3.9 frigates (photo : Sputnik)

Marine Page Marine Traffic information has updated position Rolldock Star - Dutch nationality transports ship carrying Gepard missiles frigates of Vietnam.

According to Marine Traffic, the Rolldock Star super-heavy tanker, arrived at the port of Singapore on Jan. 17 and anchored one day for refueling, as well as for logistics.

On the 18th of January, the Rolldock Star departed for the final leg of Vietnam's Cam Ranh Port, arriving at 13 am on Saturday.

As usual, the Rolldock Star will be anchored outside of Cam Ranh Bay until the next morning before being towed into the port on 21 January. The fourth ship of the Vietnam Navy's Gepard 3.9 missile will be unloaded soon after.

As of January 22, the Vietnamese People's Navy has officially received the fourth Gepard 3.9 missile defense and is also the last to be built under a contract signed in October 2012. .

Rosoboronexport then handed over the contract to Zelenodolsk Plant in February 2013. The third warship, the 488th, was launched in late April, and the 487th was launched on 26 May.

On 4/12/2017, the Rolldock Star boarded the Black Sea port of Novorossiysk to transport the 487 Gepard to Vietnam after sending the Gepard-487 to Cam Ranh port safely on Oct. 27. / 2017. 

During the sailing, the Rolldock Star docked in Istanbul on December 6, 2017 and the Gibraltar port area on December 12, 1977 for refueling, after which the ship continued to move to the Atlantic.

After crossing the Cape of Good Hope, the Rolldock Star entered the Indian Ocean, looped back to Indonesia and headed for Singapore safely, less than two days later than originally scheduled (15/01/2018), before at Cam Ranh port on January 20.

With the acquisition of four modern Gepard 3.9 missile guards, the strength of the Vietnamese People's Navy has been raised to a new height, capable of defending the sovereignty of the nation in the new period.

TNI AL Sebar Kapal Patroli ke 14 Lantamal

23 Januari 2018


Satrol Lantamal dapat merespons berbagai kerawanan yang terjadi, antara lain illegal fishing, illegal mining, illegal logging, drugs trafficking, dan people smuggling (photo : defence.pk)

Liputan6.com, Jakarta - TNI Angkatan Laut (TNI AL) resmi melakukan pemisahan komando kapal-kapal Satuan Kapal Patroli (Satrol) kepada 14 Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) dari Komando Kawasan Armada (Koarmada) Barat dan melantik Komandan Satrol Lantamal lewat sebuah upacara pagi ini. Kapal-kapal itu kini disebar ke 14 Lantamal yang berada di seluruh Indonesia.

KSAL Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan, tujuan dari pemisahan komando kapal Satrol untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi jika dibutuhkan reaksi cepat dalam mengamankan wilayah perairan.

Sekaligus, merespons berbagai kerawanan, melakukan operasi keamanan laut, tanggap dalam bencana jika membutuhkan kedatangan kapal patroli tersebut segera.

"Misal ke Natuna, laut Jawa, laut Aru, didukung dari satuan patroli di sana, baru untuk nanti yang terpusat nanti kapal kombatan saja," ucap Ade Supandi sebagai inspektur upacara di Dermaga Sunda Komplek Satuan Koarmabar I, Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (22/1/2018).

Sebelum dilakukannya pemisahan, jika dibutuhkan respons cepat dari datangnya kapal Satrol, maka harus melewati proses administrasi dan berangkat dari daerah tertentu terlebih dahulu. Waktu yang dibutuhkan untuk tiba di lokasi yang dibutuhkan pun menjadi lebih lama.

"Karena (sebelumnya) terpusat di Surabaya dan Jakarta, kemudian dikerahkan ke laut menunggu lama. Jadi harus ada markas komando Lantamal," ujar Ade.

Kini, Satkamla Lantamal sudah memiliki kapal dan otoritas sendiri untuk menggerakan komando di daerahnya

Tersebarnya kapal Satrol di 14 Lantamal pun otomatis menjadikan pergerakan kapal menjadi lebih cepat untuk tiba di lokasi yang dibutuhkan.

Harapannya, persoalan-persoalan di laut seperti illegal fishing, illegal mining, illegal logging, drugs trafficking dan people smuggling dapat terselesaikan dengan cepat.

"Kalau kita punya seperti di Jayapura, nanti akan lebih mudah untuk oprasi dari laut," kata Ade.

Upacara pemisahan komando kepada 14 Lantamal dan pelantikan Komandan Satrol Lantamal pun berlangsung khidmat. Upacara dihadiri para Pejabat Utama Mabesal dan para Pangkotama TNI AL dengan Komandan Upacara Kolonel Laut (P) Johannes Djanarko Wibowo.

(Liputan 6)

Russia will Supply Myanmar with Six Su-30 Fighters

23 Januari 2018


Su-30 of the Russian Air Forces (photo : Max Bryansky)

NEIPIIDO (Myanmar) - RIA Novosti. Myanmar will buy six Su-30 fighters from Russia and also are interested in sea and land equipment, Russian Deputy Defense Minister Alexander Fomin told journalists on Monday.

"During the visit of Defense Minister Sergei Shoigu, an agreement was reached on the purchase of six Su-30 planes by Myanmar ... Myanmar side also shows interest in Russian-made sea and land equipment," Fomin said.

According to him, the Su-30, which "in practice proved the combat qualities of a world-class aircraft," should become the main fighter of the Myanmar air force.

Russian weapons, Fomin said, proved to be very good at serving in the Armed Forces of Myanmar.

"These are, in particular, Mi-24, Mi-35 and Mi-17 helicopters, as well as MiG-29 fighters, Yak-130 training aircraft, Pechora-2 surface-to-air missile systems, and other equipment," the deputy minister said. defense.

(RIA Novosti)

22 Januari 2018

TNI AU Tingkatkan Kemampuan Maritime Air Strike dan Maritime Air Support

22 Januari 2018

Pesawat F-16 TNI melaksanakan tugas maritim (photo : poskotanews)

Dukung Program Pemerintah TNI AU Tingkatkan Maritime Air Support

TNI AU. Kebijakan TNI AU ke depan mengarah pada upaya pemantapan satuan untuk meningkatkan kesiapan operasional. Oleh karena itu, tercapainya kemampuan operasional yang optimal satuan-satuan udara dan semakin mantapnya berbagai lembaga pendidikan, menjadi prioritas utama TNI AU.

Penegasan ini disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E, M.M., dalam entry briefing kepada para pejabat, Panglima, dan Komandan Satuan TNI AU, di Mabesau, Cilangkap, Jakarta Senin (22/1). Hadir Sekjen Kemhan Marsdya TNI Hadiyan Sumintaatmadja, Wagub Lemhannas Marsdya TNI Bagus Puruhito, Irjenau, Koorsahli Kasau, para Asisten Kasau, Panglima, Komandan dan para Pejabat TNI Angkatan Udara

Kasau menegaskan bahwa kebijakan TNI AU dalam mendukung program pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, adalah dengan meningkatkan kemampuan TNI AU untuk melaksanakan maritime air strike dan maritime air support.

Pengadaan Alutsista TNI AU

“Saat ini kita sudah memasuki tahapan Renstra II (2015-2019), sementara alutsista belum diterima. Untuk itu, saya harapkan agar proses pengadaan pemenuhan alutsista Renstra ke II dapat segera direalisasikan”, tegas Kasau.

Pesawat Sukhoi TNI melaksanakan tugas maritim (photo : harianbabel)

Dijelaskan Kasau, pembangunan postur TNI AU yang direncanakan akan tetap mengarah pada memperkuat kemampuan operasional satuan udara, yang mampu menghadirkan air superiority ke tengah samudra, security coverage bagi Naval Force. Kasau minta agar dinas dan jajaran terkait segera melaksanakan koordinasi dengan Mabes TNI, Kemhan serta Kementerian/Lembaga terkait lainnya, agar proses pengadaan pemenuhan alutsista dapat dipercepat dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku.

Menurut Kasau pengadaan alutsista yang masih belum terpenuhi meliputi pesawat pengganti F-5, pesawat helikopter angkut, helikopter VVIP/VIP, pesawat angkut berat, pesawat multipurpose amphibious, pesawat latih dan modernisasi pesawat C130 H/HS, pesawat NC-212i, pesawat CN-295 Special Mission (Kodal), PTTA, radar dan senjata pesawat T-50i, Rudal Pam Ibukota, PSU, dan Radar GCI.

Kasau menilai, para pendahulu TNI AU telah membawa organisasi TNI AU ke tingkat perkembangan yang cukup baik. Oleh karena itu TNI AU harus tetap optimis, karena apa yang di lihat saat ini, sudah merupakan hasil optimal dari kondisi yang ada.

”Dengan dilandasi sifat jujur, inovatif dan adaptif, saya harapkan dapat membangkitkan motivasi kita semua untuk memberikan pengabdian yang terbaik kepada TNI Angkatan Udara”, harap Kasau.

 (TNI AU)

PT PAL Produksi Tujuh Kapal Tahun Ini

22 Januari 2018

KCR-60 produksi PAL untuk TNI AL (photo : Jane's)

PT PAL produksi tujuh kapal cepat rudal tahun ini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia di tahun 2018 menargetkan memproduksi sedikitnya tujuh kapal cepat rudal (KCR), baik untuk keperluan alutsista TNI AL maupun ekspor ke negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Budiman Saleh mengatakan, produksi kapal perang di tahun 2018 meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

"Target kami untuk tahun ini ada empat kapal cepat rudal yang 60 meter pesanan dari TNI AL, kemudian juga target ekspor kami di Malaysia bisa dapat dua, di Thailand itu targetnya ada satu kapal, dan beberapa dari negara Afrika," kata Budiman usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (22/1).

Produksi kapal cepat rudal jenis KCR-60 meter merupakan pesanan tahap kedua oleh TNI AL, setelah sebelumnya PT PAL Indonesia telah menyelesaikan pembuatan tiga kapal rudal serupa dan diserahkan kepada TNI AL.

Selain itu, PT PAL juga memproduksi kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) dan "Landing Platform Dock" (LPD) untuk keperluan perlengkapan alutsista pertahanan negara di laut.

"Terkait ekspor, kita sudah masuk di pasar Asia Tenggara, yaitu di Thailand, Malaysia, dan juga kembali ke Filipina serta beberapa negara di Afrika seperti Senegal, Kongo, Guinea Bissau dan Burkina Faso," paparnya.

Budiman bersama beberapa direksi PT PAL Indonesia melaporkan kepada Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin, terkait perkembangan industri kapal Indonesia serta rencana memberikan pelatihan kepada masyarakat muda Indonesia.

"Kami juga bicara tentang vokasi sebagai salah satu prgram besar Pemerintah kita kepada kurang lebih 1.500 anak Indonesia dari seluruh wilayah timur sampai barat mulai November 2017 sampai dengan November 2018," ujar Budiman. (Kontan)


Kapal SSV produksi PAL untuk AL Filipina (photo : GMA)

PT PAL optimistis pendapatan 2018 meningkat dua kali lipat

Jakarta (ANTARA News) - PT PAL Indonesia (Persero) optimistis mengalami kenaikan pendapatan hingga dua kali lipat pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2017.

"Tahun 2016 merupakan suatu masa sulit bagi PT PAL, kemudian di 2017 itu ada pertumbuhan sales (penjualan) sekitar dua kali lipat (dari 2016). Alhamdulillah, mungkin di 2018 itu nanti dua kali lipat lagi," kata Direktur Utama PL PAL Indonesia Budiman Saleh usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Senin.

Untuk tahun 2018, PT PAL Indonesia menargetkan pendapatan penjualan kapal perang sebesar Rp2,4 triliun, meningkat dua kali lipat dari pendapatan 2017 sebesar Rp1,2 triliun.

Sementara itu, nilai kontrak yang ditargetkan PT PAL Indonesia di tahun 2018 sebesar Rp4 triliun, sehingga jika ditambah nilai sisa kontrak tahun lalu senilai Rp3 triliun, maka total nilai kontrak saat ini mencapai Rp7 triliun.

"Jadi kontrak baru yang akan kita kejar ditargetkan di 2018 itu adalah Rp4 triliun, carry over kontrak dari 2017 ke 2018 itu ada Rp3 triliun. Jadi book order value-nya lumayan tinggi, sekitar Rp7 triliun," jelasnya.

Setelah menyelesaikan pesanan kapal perang dari Filipina, PT PAL Indonesia mulai merambah negara-negara kawasan Asia Tenggara lain dan juga di Afrika, seperti Malaysia, Thailand, Senegal, Kongo, Burkina Faso dan Guinea Bissau.

Meskipun memperluas ranah ekspor, PT PAL Indonesia memastikan kebutuhan dalam negeri untuk penguatan alutsista TNI AL tetap terpenuhi.

"Kita masih mempunyai kapasitas sisa yang bisa digunakan untuk kebutuhan ekspor. Jadi, jangan sampai kebutuhan dalam negeri tidak terpenuhi karena overload, utilisasi sudah dipakai untuk keperluan ekspor non-TNI," ujarnya.

Budiman bersama beberapa anggota direksi PT PAL Indonesia melaporkan kepada Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin, terkait perkembangan industri kapal Indonesia serta rencana memberikan pelatihan kepada masyarakat muda Indonesia.

"Kami juga bicara tentang vokasi sebagai salah satu prgram besar Pemerintah kita kepada kurang lebih 1.500 anak Indonesia dari seluruh wilayah timur sampai barat mulai November 2017 sampai dengan November 2018," ujar Budiman. (Antara)