12 Januari 2018

KAI Delivers Two T-50TH to Thailand

12 Januari 2018


Two T-50TH have been delivered to Thailand (photo : KAI)

KAI delivers two advanced trainer jets to Thailand

South Korea’s sole military aircraft manufacturer Korea Aerospace Industries Ltd. (KAI) said on Monday that it began delivery of its T-50TH supersonic trainer jets to Thailand’s Air Force as a part of a deal won from the Thai government in 2015. 

The trainer jets arrived at Takhli Royal Thai Air Force Base via a 12-hour 6,658 kilometer ferry flight after leaving Sacheon, South Gyeongsang Province, at 9 a.m., and flying through Taiwan, the Philippines, and Malaysia, on Monday. 


T-50TH with body number 40101 (photo : Kaohsiung International Airport)

An unnamed official from KAI said that it signed a $110 million contract with the Thai government in 2015 to export four T-50TH trainer jets. Two of four aircrafts were delivered on Monday and the remaining two will arrive in the Southeast Asian country in March, the official said. 

KAI also signed a $260 million worth contract to export 8 more T-50TH to Thailand in July, last year. 

It is the third time for KAI to deliver jets via a ferry flight in which a pilot delivers a new aircraft directly to the customer without using another means of transportation. 


T-50TH with body number 40102 (photo : Kaohsiung International Airport)


KAI delivered 15 T-50i aircrafts to Indonesia in 2014 and 12 FA-50PH jets to the Philippines in 2015, both via ferry flight. 

T-50 aircrafts were first exported to Indonesia in 2011. A total of 64 T-50 aircrafts worth $2.9 billion have been exported so far to the Middle East and Southeast Asia. KAI is currently pushing to export T-50 advanced aircrafts to the United States, Botswana, and Argentina. 

As of 2:10 p.m., shares of KAI were up 1.79 percent at 48,450 won ($45.5) on Tuesday.

(Pulse)

25 komentar:

  1. keren Thailand.. Philippine juga sudah

    ayo Malaysia.. kami tunggu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Not diz year.. mereka butuh pesawat patroli MPA tahun ini atau memilih dapat hibahan Orion dari jepang seperti berita tahun lalu.

      Kalo gw prefer lebih baik mereka beli MPA baru... nanti tahun depan baru sounding2 pengadaan FA50

      Hapus
    2. Dua hal yg berbeza ttng 4 mpa baru Dan hibah Orion. Pembelian 4 mpa baru sudah ada dananya, hanya tinggal pilih Mana yg sesuai. Dan skrng team tudm masih tahap menilai calon pesawat mpa. Pasal hibah Orion itu lain cerita dan iya Masih tahap rundingan malaysia dan jepun. Pasal FA50, setakat ini berita mengenai nya masih tidak jelas. Belum Ada kenyataan rasmi dari kerajaan atau pihak tudm. Cuma memang tudm nak kan pesawat LIFT. Tunggu DSA2018 nanti bulan Mac.

      Hapus
    3. Nash,untuk calon pesawat LIFT, apa competitor FA50...?

      Hapus
    4. Yup you right nash

      Mas panji kalo lihat di pasaran jaman now utk pesawat LIFT tinggal FA50 atau order more Hawk.

      Karena TUDM pakai Hawk bisa jadi opsi bagus juga karena sudah terbiasa pakai Hawk jadi gak perlu lagi infrastuktur pelatihan dan simulator sampai database sparepart warehouse system baru.

      Kalau ambil FA50 maka harus siap2 dana tambahan untuk membangun system yg baru juga. Ini yg harus dipikirkan selain penambahan cost untuk training yg harus dibudgetkan.

      Hapus
    5. Tidak tahu. Paling cuma Alenia Aermacchi M-346. Sebaiknya tunggu kenyataan rasmi dari tudm. Seperti pesawat mpa sudah Ada calon rasmi yg dikeluarkan oleh tudm iaitu cn235, c295 dan ATR 72MP

      Hapus
    6. C295 Pilihan terbaik tengah2.
      Sy sendiri pengennya CN235 yg terpilih tapi bila dirasa kurang capable maka C295 opsi paling worth to buy.

      Hapus
    7. Tapi dari kawan saya yg punya info orng tudm. Mereka lebih memilih ATR72MP.

      Hapus
    8. Ada komparasi harga ATR vs C295 ?

      Kadang pilihan di lapangan harus compromise dengan Budget yg tersedia. Bila budget tight maka opsi terbaik adalah mendapatkan yg seimbang antara kebutuhan (bukan keinginan) dgn dana yg tersedia.

      Hapus
    9. Klu sudah calon dikeluarkan mesti harga sudah diambil kira. Lagipun ATR72MP sudah hadir di Lima 2017 yg lalu dan menawarkan pesawat ini kepada tudm. Dari sana pihak tudm sudah menilai serba sedikit kemampuan spec pesawat ATR72 ni. keputusan belum dikeluarkan lagi. Jadi masih ada harapan yg lain.

      Hapus
    10. Good news then...

      Mudah2an bisa terealisasikan
      Aamiin

      Hapus
    11. Jadi enggaknya Malaysia ambil new LIFT Plane tergantung opsi yg akan dipilih. Bila mereka akhirnya upgrade Hawk series artinya kemungkinan mereka tidak akan mengakuisisi FA50 dan akan meneruskan jatah hidup Hawk selama beberapa puluh tahun kedepan. Ada kemungkinan bila mereka stick to Hawk, still chances to acquired more Hawks whether its new one or refurbished option.

      Hapus
    12. Yg di upgrade hawk208 saja. Bukan hawk108 yg kursi ganda. Lagipun yg mau digantikan bukan pesawat hawk208. Tapi pesawat MB-339CM + hawk108. Tak jauhx2 paling 3 yg dicari tambah hawk atau beli pesawat lift baru seperti fa50 atau Aermacchi M-346.

      Hapus
    13. Prefer opsi nambah Hawk.. nyiapin parameter baru seperti FA50 bukan hanya perlu dana pembelian pesawat tapi harus disiapkan dana first implementation seperti training dari awal (from zero), simulator system, mendatangkan teknisi2 dari luar, warehouse database baru, sparepart2 fast moving yg umumnya bila hitungan direal life (di pabrik2 manufacture) bisa berkisar hingga 25 percent dari total akuisisi capital expenditurenya apalagi bila sampai ada kewajiban transfer technology bisa nembus 35 percent mungkin.

      Bila budget tight opsi ideal hanya dua menurut saya :
      - Jual semua Hawk series gantikan dengan FA50 series start from zero
      - Stick di Hawk dan tambah lagi Hawk baru sekaligus

      Saat kondisi keuangan kurang baik opsi efisiensi lebih make sense. Memelihara Hawk series sekaligus FA50 series yang keduanya merupakan pesawat jenis LIFT sepertinya akan kurang efektif dari sisi cost.

      Prediksi saya MRCA program baru akan muncul lagi di medio 2025 (bila oil price condition masih decline spt skrg ini). 2018 ke 2025 adalah 7 tahun. Dan 7 thn adalah waktu yg cukup untuk sementara memberdayakan Hawk series ketimbang FA50 series yg makan waktu banyak (misal pesan FA50 di thn 2020 baru akan delivery di thn 2022 1st batch dan tuntas di thn 2024), padahal ditahun tsb 2025 teknologi stealth pada pesawat tempur sudah settle dan program MRCA bisa fokus di gen 5. Pengadaan FA50 (jika memang terjadi) kurang feasible ketimbang pengadaan Hawk series untuk kondisi sulit saat ini.


      Hapus
    14. bukannya hawk uda setopline om super?πŸ™„πŸ™„πŸ™„

      buat mereka bagusnya Aermacchi M-346.
      soalnya mesin kembar. setau guwe, pespur tetangga banyakan 2 mesin.

      kyknya kita harus py sich suatu saat, bukan kerna kita py suki, soal faktor keamanan byk laut soalnye haha!πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

      Hapus
    15. Biarkan pihak atasan yg menentukan apa yg mereka pilih. Apa yg dipilih itu mgkin yg terbaik. Kita cuma bisa beri pendapat saja.

      Hapus
  2. Thailand sama beli t50 ya bukan fa 50 ?pantesan utusan dari angkatan udara kerajaan thailand sempat datang ke lanud iswahyudi untuk melihat performa t50 tni au

    BalasHapus
    Balasan
    1. ituw artinya yg mrk butuhkan jet latih lanjutan, bkn pespur kyk filipin.
      f16 mrk uda banyak sangat. utk pespur baru mrk pilih gipengdor begitu kira2 penjelasaannya om doni haha!😊😊😊

      Hapus
    2. @ palu gada..Yup betul sekali..

      Hapus
    3. makasi om tupz🀝🀝🀝

      Hapus
  3. Congrats Royal Thai Air force now joining the Golden Eagle brothers

    BalasHapus
  4. Lets do some triangle exercise then...
    RTA, Philipine and Indonesia with new pack so called "Golden Eagles Fight Club" 😁😁😁😁

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. om pit, yg diatas thai bkn py duterte haha!😁😁😁

      ขอแΰΈͺΰΈ”ΰΈ‡ΰΈ„ΰΈ§ΰΈ²ΰΈ‘ΰΈ’ิΰΈ™ΰΈ”ี

      Hapus